Lamongan, Media Edy Macan - Upaya meningkatkan kualitas pendidikan inklusif melalui pemanfaatan teknologi digital terus dilakukan di Kabupaten Lamongan. Salah satunya melalui program pengabdian kepada masyarakat yang digagas U;niversitas Sunan Gresik di SLB Ma'arif NU Tikung. Program ini berhasil meningkatkan kompetensi literasi digital guru sekaligus mendorong terciptanya pembelajaran yang lebih interaktif bagi siswa berkebutuhan khusus.
Program tersebut dipimpin oleh dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas Sunan Gresik, Husnuz Zuhad, M.Pd., dan dilaksanakan selama delapan bulan, mulai Januari hingga Agustus 2026. Sasaran kegiatan adalah guru serta peserta didik berkebutuhan khusus yang terdiri atas siswa tunanetra, autisme, hambatan intelektual, dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
Menurut Husnuz Zuhad, penguatan literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi, tetapi juga harus membangun budaya pembelajaran yang inklusif dan bertanggung jawab.
"Program penguatan literasi digital ini kami rancang bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan teknis guru dalam menggunakan perangkat digital, tetapi juga untuk membangun kesadaran etika dan budaya pembelajaran inklusif berbasis teknologi. Kami ingin memastikan bahwa guru di SLB Ma'arif NU Tikung mampu mendampingi siswa berkebutuhan khusus dengan media pembelajaran yang interaktif, aman, dan relevan dengan perkembangan era Pendidikan 5.0. Hasil yang kami capai menunjukkan bahwa dengan pendampingan berkelanjutan, guru dapat bertransformasi menjadi fasilitator digital yang kreatif sekaligus bijak, sehingga pembelajaran inklusif benar-benar dapat berjalan optimal dan berkelanjutan," jelasnya.
Pelaksanaan program diawali dengan koordinasi bersama pihak sekolah pada 30 November 2025. Kegiatan ini mempertemukan tim pengabdian, kepala sekolah, dan para guru untuk menyusun kesepahaman mengenai tujuan, mekanisme pelaksanaan, hingga target yang ingin dicapai. Komitmen kerja sama kemudian dituangkan melalui penandatanganan Surat Pernyataan Kesediaan Mitra.
Tahap berikutnya dilaksanakan melalui sosialisasi program pada 11 Desember 2025. Selain memberikan pemahaman mengenai pentingnya literasi digital dalam pembelajaran inklusif, tim juga melakukan pemetaan kemampuan awal guru. Hasil survei menunjukkan bahwa dari sepuluh guru yang menjadi peserta, hanya tiga orang yang telah terbiasa menggunakan media pembelajaran digital, sedangkan sekitar 70 persen lainnya masih menghadapi kendala dalam pemanfaatan teknologi.
Sebagai dasar penyusunan materi pelatihan, tim pengabdian menggelar dialog pra-workshop pada 6 Mei 2026. Diskusi tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi, di antaranya penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) penggunaan perangkat digital di sekolah serta kebutuhan pelatihan mengenai aplikasi pembelajaran interaktif, pembuatan media digital sederhana, dan strategi penerapan teknologi dalam pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus.
Hasil dialog kemudian ditindaklanjuti melalui workshop literasi digital pada 25 Mei 2026. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Kartika Irene Widjanarko, M.Pd. yang membahas konsep literasi digital dan penyusunan SOP, Husnuz Zuhad, M.Pd. yang memberikan pelatihan pemanfaatan Wordwall sebagai media pembelajaran interaktif, serta Ahmad Luqman Hakim, M.Pd. yang mengenalkan Kahoot sebagai platform evaluasi pembelajaran berbasis kuis digital. Selain materi teknis, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai etika digital, keamanan siber, serta penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Setelah workshop selesai, program berlanjut pada tahap monitoring dan pendampingan yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026. Selama periode tersebut, guru mulai mengintegrasikan berbagai perangkat dan aplikasi digital, seperti Smart TV, laptop, Wordwall, dan Kahoot ke dalam kegiatan belajar mengajar. Tim pengabdian secara rutin memberikan pendampingan agar implementasi teknologi berjalan optimal sekaligus membantu menyelesaikan kendala yang dihadapi guru.
Evaluasi program menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan pengukuran melalui pre-test dan post-test, rata-rata nilai kompetensi guru meningkat dari 31,25 menjadi 80,00. Sementara itu, nilai N-Gain mencapai 0,72 yang termasuk kategori tinggi. Capaian tersebut menunjukkan bahwa program penguatan literasi digital efektif meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran.
Dampak program tidak hanya dirasakan oleh para pendidik, tetapi juga oleh peserta didik. Pemanfaatan media pembelajaran digital terbukti mampu meningkatkan motivasi, partisipasi, dan keterlibatan siswa selama proses belajar berlangsung. Di sisi lain, guru menjadi lebih percaya diri dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif sekaligus memahami pentingnya etika digital dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Universitas Sunan Gresik berhasil mendorong transformasi pembelajaran di SLB Ma'arif NU Tikung menuju pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan berbasis teknologi. Penyusunan SOP, peningkatan kompetensi guru, serta pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan menjadi fondasi penting dalam mendukung implementasi Pendidikan 5.0 di lingkungan sekolah luar biasa.

Posting Komentar