Surabaya, Media Edy Macan – Nama KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam menjadi salah satu figur penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir. Sosok cucu KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri utama NU, tersebut dinilai memiliki peran besar dalam memperkuat konsolidasi organisasi, kaderisasi, hingga pengembangan berbagai program strategis di lingkungan PWNU Jawa Timur.
Gus Salam pernah menjabat sebagai Katib PBNU periode 2015-2020. Namun pada tahun 2018, ia mengundurkan diri dari posisi tersebut atas arahan para guru dan kiai untuk fokus mengabdi di PWNU Jawa Timur. Setelah Muktamar ke-34 NU di Lampung tahun 2021, ia kembali dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, namun kembali memilih fokus menjalankan khidmah di Jawa Timur sesuai arahan para masyayikh.
Keputusan tersebut dinilai sejalan dengan posisi strategis Jawa Timur sebagai barometer Nahdlatul Ulama. Selain menjadi tempat berdirinya NU, Jawa Timur juga dikenal sebagai wilayah dengan jumlah warga nahdliyin dan pesantren terbesar di Indonesia.
Selama menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, Gus Salam mendapat mandat untuk mengoordinasikan berbagai program strategis organisasi, termasuk bidang pengkaderan. Ia juga dikenal sebagai penggerak berbagai agenda konsolidasi internal yang memperkuat sinergi antara struktur organisasi dan basis pesantren.
Salah satu langkah yang dianggap fundamental adalah pembiasaan rapat rutin PWNU setiap hari Selasa yang melibatkan unsur syuriyah dan tanfidziyah. Tradisi ini menjadi ruang koordinasi, penyatuan gagasan, serta penyelesaian berbagai persoalan organisasi secara berkelanjutan.
Selain itu, berbagai forum informal berbasis pesantren juga rutin digelar untuk memperkuat hubungan kultural antar pengurus, kiai, dan aktivis NU di Jawa Timur.
Dalam bidang kaderisasi, PWNU Jawa Timur mencatat capaian signifikan. Hingga pertengahan 2023, tercatat lebih dari 1.350 angkatan Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU) telah dilaksanakan dengan jumlah kader mencapai lebih dari 130 ribu orang yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur.
Tidak hanya kaderisasi, sejumlah kegiatan berskala besar juga berhasil digelar. Di antaranya Apel Hari Santri Nasional terintegrasi Hari Pahlawan, Santri Culture Night Carnival (SCNC), hingga gerakan penggalangan dana untuk mendukung pelaksanaan Muktamar ke-34 NU yang berhasil menghimpun partisipasi warga nahdliyin Jawa Timur hingga miliaran rupiah.
PWNU Jawa Timur juga mengembangkan berbagai program strategis melalui konsep yang dikenal sebagai “Panca Harakah” atau lima gerakan utama, yakni Gerakan Pengkaderan dan Pendataan Anggota, Gerakan Pendidikan Berkualitas, Gerakan Kemandirian Ekonomi, Gerakan Kesehatan, serta Gerakan Keagamaan dan Sosial.
Di sektor ekonomi, berbagai usaha berbasis warga NU terus didorong, mulai dari pengembangan BMT NU, NU Mart, usaha pertanian, peternakan, hingga lembaga keuangan syariah yang hasilnya turut menopang kemandirian organisasi.
Sementara di bidang kesehatan, jaringan layanan kesehatan NU di Jawa Timur terus berkembang. Hingga akhir 2023 tercatat terdapat puluhan rumah sakit dan klinik pratama yang berafiliasi dengan NU dan melayani masyarakat luas.
Menurut sejumlah pengamat dan kader NU, model kepemimpinan yang dibangun Gus Salam menunjukkan pentingnya konsolidasi organisasi yang dimulai dari hal-hal sederhana namun dilakukan secara konsisten. Pendekatan tersebut dinilai berhasil memperkuat fondasi gerakan NU sekaligus memperluas manfaat organisasi bagi masyarakat.
Dengan berbagai capaian tersebut, khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur dinilai telah memberikan kontribusi penting dalam membangun struktur gerakan yang kuat, memperkuat kaderisasi, serta mendorong kemandirian organisasi demi kemaslahatan jamaah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Posting Komentar