SURABAYA, Media Edy Macan – Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) memberikan respons tegas terkait beredarnya video di media sosial yang diduga dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan berisi tantangan konfrontasi terhadap PNIB. Video tersebut diunggah melalui akun TikTok @sang.wali4 yang mengatasnamakan Laskar FPI.
Video itu muncul di tengah gelombang penolakan terhadap kehadiran Rizieq Shihab di sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Pasuruan, Pamekasan, dan Surabaya. Penolakan dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat lintas agama, budaya, dan tradisi yang menolak paham intoleransi, radikalisme, khilafah, serta terorisme.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau yang akrab disapa Gus Wal, menilai penggunaan video AI sebagai bentuk provokasi di media sosial yang tidak menunjukkan keberanian secara langsung.
“Laskar FPI terlihat munafik menggunakan video AI untuk menantang PNIB. Mereka menguasai teknologi, tetapi tidak punya nyali menyampaikan secara langsung. PNIB tidak akan mundur selangkah pun, apalagi hanya digertak menggunakan provokasi di media sosial,” tegas Gus Wal, Selasa (12/5/2026).
PNIB selama ini dikenal sebagai salah satu organisasi masyarakat yang secara konsisten menolak kehadiran Rizieq Shihab dan kelompok yang dianggap membawa paham khilafah, radikalisme, serta terorisme. Penolakan tersebut tidak hanya dilakukan di Surabaya, tetapi juga di berbagai daerah lain yang menjadi lokasi agenda dakwah Rizieq Shihab.
Menurut Gus Wal, langkah penolakan itu dilakukan demi menjaga persatuan bangsa, kebhinekaan, serta ideologi Pancasila dari berbagai bentuk provokasi yang dinilai dapat memecah belah masyarakat.
“Kami menolak setiap bentuk provokasi yang dibungkus dakwah. Ini demi menjaga persatuan bangsa, kebhinekaan, dan Pancasila dari agitasi khilafah, radikalisme, serta terorisme. PNIB tidak akan pernah berhenti melakukan penolakan apa pun risikonya,” ujarnya.
Diketahui, Rizieq Shihab dijadwalkan melakukan safari dakwah di sejumlah wilayah Jawa Timur, mulai dari Pasuruan, Pamekasan, Surabaya, hingga beberapa kota lainnya. PNIB menilai agenda tersebut sebagai bagian dari bangkitnya kembali gerakan kelompok khilafah yang sebelumnya telah dilarang pemerintah.
PNIB juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk provokasi yang dinilai dapat mengganggu persatuan nasional.
“Jaga bangsa, jaga kampung, dan jaga lingkungan dari provokasi ideologi asing yang sudah jelas dilarang negara. Kami berharap Polri dapat mempertimbangkan kembali izin kegiatan yang dinilai berpotensi memicu keresahan serta melakukan evaluasi terhadap pihak terkait,” pungkas Gus Wal.
Redaksi: Team
Posting Komentar