Menolak Lupa Sejarah: Ketika Loyalitas Beradu dengan Arus Regenerasi Sepihak

 

 

SIDOARJO Media Edy Macan– Di balik megahnya panji Banteng Moncong Putih, tersimpan sebuah narasi pilu yang kini mulai menyeruak ke permukaan. Bukan tentang strategi pemenangan atau hingar-bingar kontestasi, melainkan tentang jeritan hati para kader akar rumput di Sidoarjo yang merasa pengabdian puluhan tahun mereka kini berada di ujung tanduk.

Kamis (30/4/2026) menjadi saksi bisu berkumpulnya sejumlah pengurus tingkat Anak Cabang (PAC). Pertemuan tersebut bukan sekadar rapat rutin, melainkan sebuah ruang katarsis bagi mereka yang merasa "dibuang" oleh sistem yang mereka bangun sendiri.

Titik api konflik ini bermula dari rencana perombakan struktur pengurus dengan dalih regenerasi. Bagi tokoh senior seperti Cak Kusen dari PAC Candi, kebijakan ini dirasakan sebagai bentuk penghapusan jejak sejarah secara paksa.

"Kami bukan sekadar pengurus; kami adalah saksi hidup perjalanan partai ini dari titik nadir hingga kejayaan," ujar Cak Kusen dengan nada getir. "Kami mendukung anak muda, tapi jangan jadikan regenerasi sebagai alasan untuk menyingkirkan mereka yang telah berdarah-darah demi partai. Ini soal etika dan penghormatan."

Ketegangan semakin memuncak menyusul desas-desus di grup WhatsApp mengenai langkah sepihak yang diambil oleh jajaran KSB (Ketua, Sekretaris, Bendahara) DPC PDI Perjuangan Sidoarjo. Minimnya ruang dialog membuat para kader di tingkat bawah merasa hanya dianggap sebagai angka, bukan sebagai bagian dari keluarga besar.

Kecewa namun tak menyerah, para kader PAC memutuskan untuk membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih tinggi, yakni DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Mereka menuntut keadilan, keterbukaan, dan penghargaan atas loyalitas yang tak pernah putus.

Tak hanya urusan internal, kegelisahan ini meluas hingga ke isu transparansi publik. Muncul rencana audiensi dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sidoarjo terkait dugaan penolakan laporan Bantuan Politik (BANPOL) tahun 2025.

Mas Eko dari PAC Sidoarjo Kota menegaskan bahwa gerakan ini bukanlah bentuk pembangkangan. "Kami mencintai partai ini. Justru karena cinta itulah, kami tidak ingin ada noda yang merusak nama baik organisasi. Jika ada yang melenceng, tugas kamilah untuk meluruskannya," tegasnya.

Di tengah suasana yang kian memanas, Ustadz Gunawan dari PAC Wonoayu memberikan sentuhan reflektif. Sambil mengutip pesan legendaris Bung Karno, ia mengingatkan semua pihak tentang esensi perjuangan.

"JAS MERAH—Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Jangan lupakan mereka yang membangun rumah ini dari nol. Tanpa fondasi yang kuat di bawah, atap yang megah itu akan runtuh," pesannya dengan suara bergetar.

Kini, bola panas berada di tangan pimpinan daerah. Para kader akar rumput Sidoarjo hanya meminta satu hal sederhana: didengar. Mereka tidak sedang memperebutkan kursi kekuasaan, melainkan sedang memperjuangkan harga diri atas pengabdian yang selama ini mereka berikan tanpa pamrih. Bagi mereka, PDI Perjuangan adalah rumah, dan di dalam sebuah rumah, seharusnya setiap anggota keluarga dirangkul, bukan disingkirkan.

Redaksi:Team

Editor:Agl

0/Post a Comment/Comments

Kunjungi Kami
Untuk Kebutuhan
Bisnis Anda
Logo Karya Tenda Logo Partner Baru Logo Imparsial News