GRESIK Media Edy Macan– Di sebuah sudut sunyi Desa Tebaloan, Kecamatan Duduksampeyan, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Mbok Endang Stiyowati . Di usia senjanya, perempuan renta ini harus menelan pahitnya kenyataan hidup sebatang kara, terjebak dalam keterbatasan ekonomi dan minimnya perhatian dari otoritas terkait.
Kisah Mbok Endang adalah potret kontras di tengah hiruk-pikuk program bantuan sosial pemerintah. Saat negara menggulirkan berbagai skema bantuan untuk menyejahterakan warga, Mbok Endang justru mengaku belum pernah tersentuh oleh bantuan apa pun, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH) yang seharusnya menjadi hak bagi lansia dalam kondisi serupa.
Menjalani hari tanpa pendamping keluarga bukanlah perkara mudah. Bagi Mbok Endang, aktivitas sederhana seperti ke kamar mandi pun menjadi beban pikiran yang menghantui.
“Ibu hidup sendiri… kamar mandi saya kecil, saya khawatir jatuh,” ungkapnya lirih pada Senin (06/04/2026).
Kalimat singkatnya bukan sekedar keluhan, melainkan sinyal bahaya bagi seorang lansia yang fisiknya kian rapuh. Tanpa ada yang menjaga, setiap langkahnya di dalam rumah yang sederhana itu membayangkan risiko kecelakaan yang bisa berakibat fatal.
Persoalan Mbok Endang bukan hanya soal kemiskinan, melainkan juga soal ketepatan sasaran . Ia menyoroti bantuan fenomena klasik yang sering terjadi di lapangan: yang sering kali salah alamat, sementara mereka yang benar-benar membutuhkan justru terabaikan dalam tumpukan data birokrasi.
Kondisi ini memicu Mendalamnya warga sekitar. Mereka melihat Mbok Endang sebagai bukti nyata adanya "lubang" dalam sistem pendataan warga miskin. Warga berharap:
Pemerintah Desa segera melakukan validasi data faktual di lapangan.
Dinas Sosial terkait turun tangan secara langsung untuk memberikan perlindungan sosial.
Negara hadir bukan hanya sebagai angka di atas kertas, namun melalui aksi nyata.
Kisah Mbok Endang adalah pengingat bagi kita semua bahwa di balik laporan-laporan administratif yang terlihat rapi, masih ada jiwa-jiwa yang hidup dalam senyap tanpa bantuan. Harapannya sederhana: ia hanya ingin menghabiskan masa depan orang tuanya dengan rasa aman, tanpa harus merasa "terlupakan" oleh tanah kelahirannya sendiri.
Redaksi:Team
Editor:Agl

Posting Komentar