Ngopi Pasan Sesi 2, Ruang Kolaborasi Pemuda Rembang Bahas Masa Depan Seni Tradisional dan Pariwisata




Rembang, Media Edy Macan - 11 Maret 2026, Di tengah guyuran arus modernitas yang kerap mengikis nilai-nilai lokal, semangat kolektif untuk merawat identitas budaya justru menemukan ruangnya di Pendopo Rumah Dinas Wakil Bupati Rembang. Rabu malam (11/3/2026), pukul 21.00 WIB, gelaran "Ngopi Pasan Sesi 2" menjadi simpul strategis bagi para penggerak Karang Taruna se-Kabupaten Rembang, bersama pemangku kebijakan dan para seniman, untuk merumuskan masa depan seni tradisional dan pariwisata daerah.

Bukan sekadar ajang minum kopi dan menikmati alunan gitar tunggal di bawah guyon malam yang sejuk, forum ini menjelma menjadi ruang  yang subtansial. Kehadiran Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Rembang, Esti Coma waty, para ketua Karang Taruna, serta seniman seperti Supriyadi dari Desa Woro, Kecamatan Kragan, menegaskan, pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab tantangan zaman.

Dalam sambutannya, Dumadiyono, Ketua Panitia Pelaksana sekaligus penggagas acara, menekankan bahwa forum ini adalah manifestasi peran strategis pemuda. "Karang Taruna tidak boleh lagi dipahami sebagai entitas seremonial yang hanya eksis di musim hajatan. Kami hadir untuk mendorong gagasan-gagasan progresif dan edukatif. Ini adalah ruang bagi kami untuk duduk setara dengan pemerintah, memberikan masukan, dan bersama-sama merancang masa depan kebudayaan Rembang," ujarnya dengan penuh semangat.

Pernyataan tersebut mendapatkan resonansi kuat dari Supriyadi, seniman asal Kragan. Ia membeberkan kegelisahan mendalam tentang warisan budaya tak benda ini di Bumi Garam. "Seni tradisional seperti Wayang Kardus, Emprak, dan Pencak Dor adalah kekayaan intelektual dan identitas kita. Namun, ia perlahan tertutup kabut zaman. Kehadiran kami di sini bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya kolektif untuk mencari formula agar para seniman dan budayawan tidak kehilangan panggung dan ruang ekspresi. Mari kita uri-uri (pelihara) kembali warisan ini melalui diskusi yang produktif," paparnya.

Menanggapi aspirasi tersebut, Esti Comawaty, yang genap menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pariwisata selama 4 bulan, menyampaikan optimismenya. Dengan analogi yang jujur, ia mengibaratkan dirinya tengah berada pada fase pembelajaran, namun berkomitmen untuk menjembatani gagasan pemuda dan seniman ke dalam kebijakan yang aplikatif.

"Pariwisata harus menjadi katalisator, bukan sekadar penonton. Kami berkomitmen memberikan ruang dialog yang berkelanjutan. Terkait Tong-tongklek, misalnya, kami tidak ingin kesenian ini hanya menjadi ikon musiman yang eksis saat kontes tahunan lalu mati suri. Saat ini, kami tengah membahas secara serius untuk menerbitkan Surat Keputusan (SK) dan mengalokasikan anggaran khusus. Tujuannya adalah memfasilitasi panggung-panggung pertunjukan reguler di destinasi wisata, sehingga para seniman memiliki ekosistem yang mendukung kreativitas mereka secara berkesinambungan," jelas Esti.

Dinamika diskusi mencapai klimaksnya ketika audiens menyoroti kondisi ikon kota, Taman Kartini. Esti mengakui kondisi taman yang memprihatinkan dan menjanjikan konsep revitalisasi pasca Lebaran. Namun, pengakuan ini tidak cukup meredam kegelisahan masyarakat yang hadir.

Suro (70), warga Desa Tasik agung yang telah mengabdi sebagai juru bersih Taman Kartini selama puluhan tahun, memberikan kesaksian yang menusuk. "Saya menyaksikan sendiri kejayaannya dulu. Taman Kartini adalah primadona, penyumbang pendapatan asli daerah dari sektor wisata. Sekarang, lihatlah. Bangunan lapuk, sampah berserakan. Jangankan gerobak sampah, sapu lidi pun tidak ada dalam anggaran. Ini bukan sekadar soal kebersihan, tapi soal bagaimana kita menghargai aset dan sejarah kita sendiri," tuturnya dengan nada getir.

Senada dengan Suro, Roby, warga yang bermukim di sekitar taman, menyoroti ironi pengelolaan. "Ada kontradiksi yang mengganggu. Di satu sisi, bangunan terabaikan dan terkesan misterius. Di sisi lain, pintu porter tetap dijaga setiap hari, menarik retribusi dari pengunjung. Lalu, nilai apa sebenarnya yang kita jual? Saya sebagai warga Rembang merasa malu jika identitas kota kita direpresentasikan oleh bangunan yang tak terawat. Ini adalah pekerjaan rumah besar bagi kita semua," kritiknya.

"Ngopi Pasan Sesi 2" telah berhasil merumuskan dua pekerjaan rumah besar: revitalisasi seni tradisional dan pembenahan ikon wisata. Forum ini membuktikan bahwa semangat kolektif antara generasi muda, seniman, dan birokrasi adalah modal sosial yang paling berharga.

Para pemuda Karang Taruna dan seniman berharap, rembuk malam ini tidak berhenti sebagai wacana. Sinergi yang telah terjalin harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang terukur dan berkelanjutan. Kejayaan seni tradisional dan kembalinya fungsi Taman Kartini sebagai ruang publik yang humanis dan membanggakan adalah cita-cita bersama yang menanti untuk diwujudkan.

Redaksi: Jowansah
Editor: Mnd

0/Post a Comment/Comments

Kunjungi Kami
Untuk Kebutuhan
Bisnis Anda
Logo Karya Tenda Logo Partner Baru Logo Imparsial News