PROBOLINGGO Media Edy Macan – Cahaya lampu temaram memantul di atas bilah-bilah besi tua yang berjajar rapi. Di balik kilau pamor yang meliuk indah, tersimpan narasi panjang tentang filosofi, doa, dan sejarah besar Nusantara. Suasana khidmat ini menyelimuti malam penutupan gelaran Ngaji Budaya di Rumah Budaya “Roma Sondhuk”, Kelurahan Sidomukti, Kraksaan, pada Minggu (15/03/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini memuncak pada Pameran Pusaka Nusantara dan dialog interaktif bertajuk “Pusaka Nusantara: Dahulu, Hari Ini, dan Akan Datang”. Acara ini menjadi magnet bagi para empu, kolektor, hingga generasi muda untuk merefleksikan kembali keris bukan sekadar senjata, melainkan identitas bangsa.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Ahmad Arif Hermawan, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan budaya tak benda.
"Keris adalah pengejawantahan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Di tengah gempuran budaya global, penguatan akar identitas melalui pengenalan pusaka kepada generasi muda menjadi sebuah kewajiban kolektif," tegasnya.
Dialog malam itu menghadirkan sosok inspiratif, Mpu Ikka Arista, empu perempuan muda asal Sumenep, Madura. Ia menyoroti tantangan besar berupa terputusnya rantai pengetahuan antar-generasi.
"Banyak pusaka masa lalu yang hanya disimpan tanpa diwariskan maknanya. Ruang diskusi seperti di Roma Sondhuk ini adalah jembatan untuk menyambung kembali pengetahuan yang sempat terputus. Keris akan selalu relevan selama kita melihatnya sebagai jati diri kultural, bahkan di era digital sekalipun," ungkap Mpu Ikka.
Acara ini juga menjadi ajang temu kangen bagi komunitas pelestari tosan aji dari wilayah Tapal Kuda. Kehadiran berbagai pihak, mulai dari SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia), Paguyuban Pataji Rengganis, hingga Lesbumi NU, mempertegas sinergi lintas sektor dalam menjaga marwah budaya.
Nur Syamsi Zakariya, Founder Roma Sondhuk, berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Ia memimpikan rumah budaya tersebut menjadi ruang edukasi bagi masyarakat agar tidak asing dengan akar tradisinya sendiri.
Malam kian larut di Kraksaan, namun perbincangan mengenai filosofi keris terus mengalir hangat. Di antara bilah-bilah pusaka yang tersimpan, tersirat pesan kuat: tradisi bukanlah sekadar abu dari masa lalu, melainkan api yang harus terus dijaga agar tetap menyala di masa depan.
Redaksi:Syl
Editor:Agl


Posting Komentar